Rabu, 03 Agustus 2016

Pasar Terapung

Pasar Terapung yang Unik
Tidak sedikit orang yang mengetahui tentang keberadaan Pasar Terapung di bumi Borneo atau Kalimantan. Umumnya masyarakat Indonesia mengetahui informasi tentang Pasar Terapung semenjak pasar unik ini muncul di salah satu iklan sebuah stasiun televisi swasta yang muncul pada 1992. Namun sayangnya, informasi terkait Pasar Terapung masih belum banyak diketahui.
Pasar Terapung memang sangat identik dengan Kalimantan, di mana salah satu Pasar Terapung terbesar berada di Banjarmasin, yaitu Pasar Terapung Muara KuinPasar Terapung Muara Kuin terletak di antara Kelurahan Kuin Utara dan Kelurahan Alalak Selatan. Pasar Terapung Muara Kuin juga sangat erat kaitannya dengan sejarah berdirinya Kota Banjarmasin dan Kerajaan Banjar pada 1595. Bahkan diyakini Pasar Terapung Muara Kuin sudah ada sebelum Kerajaan Banjar berdiri.
Area pasar ini berada termasuk dalam Pelabuhan Sungai Bandamasih yang meliputi Sungai Barito, Kuin, hingga bermuara di Sungai Kalayan. Untuk mencapai ke lokasi pasar, masyarakat lokal maupun wisatawan membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan jukung atau kelotok (perahu motor) menuju muara Sungai Kuin.
Hal yang masih dilestarikan sampai sekarang oleh para pedagang di Pasar Terapung Muara Kuin adalah siitem barter yang masih berlangsung sampai sekarang. Para pedagang, yang di dominasi oleh perempuan menggunakan pakaian Tanggui dan topi caping lebar yang terbuat dari daun rumbia untuk menutupi diri dari sengatan matahari. Barang dagangan yang dijual antara lain aneka ikan,  sayur mayur dan buah lokal, aneka hidanngan khas Banjar seperti Soto Banjar, Udang Galah, Nasi Sop Banjar, dan Bingka Kentang. 

Subak

Subak Bali
Subak merupakan Seni Estetika alam indah yang berada di Bali, Indonesia. Suatu organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam cocok tanam padi di Pulau Dewata ini. Subak biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali.Pada tahun 2012 ini UNESCO, mengakui Subak (Bali Cultur Landscape), sebagai Situs Warisan Dunia,pada sidang pertama yang berlangsung di Saint Petersburg, Rusia.

Subak Dibali.jpg

Revolusi hijau telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi ini, dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Ini sangatlah berbeda dengan sistem Subak, di mana kebutuhan seluruh petani lebih diutamakan. Metode yang baru pada revolusi hijau menghasilkan pada awalnya hasil yang melimpah, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air.  Akhirnya ditemukan bahwa sistem pengairan sawah secara tradisional sangatlah efektif untuk menanggulangi kendala ini.

Subak telah dipelajari oleh Clifford Geertz, sedangkan J. Stephen Lansing telah menarik perhatian umum tentang pentingnya sistem irigasi tradisional. Ia mempelajari pura-pura di Bali, terutama yang diperuntukkan bagi pertanian, yang biasa dilupakan oleh orang asing. Pada tahun 1987 Lansing bekerja sama dengan petani-petani Bali untuk mengembangkan model komputer sistem irigasi Subak. Dengan itu ia membuktikan keefektifan Subak serta pentingnya sistem ini.

sumber: http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/827/subak-bali

Babi Guling

Babi Guling, Makanan Khas Bali
Hasil gambar untuk babi guling bali
Salah satu makanan khas Bali yang populer adalah babi guling. Babi guling sebagai makanan tradisional ini sudah dicatatkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia sejak tahun 2011. Pada awalnya babi guling hanya digunakan untuk sajian upacara adat atau keagamaan. Namun kini babi guling dapat ditemukan dengan mudah di berbagai rumah makan, warung, dan hotel-hotel di Bali.
Babi guling atau yang lebih dikenal dengan be guling terbuat dari bahan dasar anak babi yang perutnya diisi dengan base genep (bumbu rangkap) yang terdiri dari : bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, isen, kunir, cabai rawit, gula aren, garam, terasi, daun salam dan sedikit asam.
Mula-mula babi yang sudah disembelih disiram dengan air panas untuk dihilangkan kulitnya agar menjadi bersih. Setelah itu langsung dibedah perutnya selebar 10 cm untuk mengeluarkan isinya. Setelah semua isi perutnya keluar, babi tersebut dicuci sampai bersih kemudian ditusuk dengan kayu tusukan yang sudah disiapkan sambil memasukkan bumbu yang sudah diulek. Bumbu tersebut lalu dimasukkan dalam perut babi lalu dijarit dengan benang (tali) agar bumbu tersebut tidak tumpah. Setelah itu babi tersebut diguling (dipanggang) di atas api pemanggangan dengan memutar-mutar kayu penusuknya, agar babi matang secara rata.
Dalam proses ini nyala api dikontrol dengan mengipasi agar babi tidak lekas gosong. Di samping itu setelah daging babi agak kering, lalu dimandikan dengan air kelapa agar tidak cepat gosong, dan apabila sudah agak matang dioles dengan minyak kelapa. Setelah warna babi berubah menjadi kuning kemerah-merahan secara rata dan kayu penusuk babi yang terputar menjadi longgar itu berarti bahwa babi guling sudah matang. Sehingga sudah bisa diangkat untuk ditaruh di dalam baskom/nare besar, dengan tidak lupa menarik kayu tusukannya. Dengan demikian proses ini sudah selesai sehingga sudah bisa dihidangkan atau dikonsumsi.
Sumber:http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/2320/babi-guling-kuliner-khas-bali-yang-jadi-primadona

Gerabah Madura

Gerabah Madura

SUATU BENTUK BUDAYA TRADISIONAL

Salah satu diantara warisan karya budaya yang sangat tua, luas persebarannya dan mampu bertahan hingga sekarang adalah gerabah, yakni barang pecah belah dari tanah bakar yang dibuat secara tradisional. Gerabah yang konon sudah dibuat manusia sejak mereka hidup menetap dan mulai bercocok tanam beberapa ribu tahun sebelum tarikh Masehi, kini masih kita dapatkan di seluruh pelosok Nusantara. tak terkecuali di Pulau Madura. Gerabah Madura dibuat oleh pengrajin Madura serta mempunyai fungsi-fungsi umum maupun Khusus bagi kehidupan masyarakat Madura.
Jenis-jenis gerabah Madura berfungsi sebagai benda pakai, benda hias, barang mainan, bahan bangunan dan bernilai ekonomis, sosial, magis dan lain-lain.
Gerabah Madura2.jpg

Bahan dan Lokasi Pembuatan
Madura kaya akan pembuatan gerabah yakni sejenis tanah liat yang berwarna kuning dengan pasir halus. Tanah liat hitam dapat juga dipergunakan tetapi kualitasnya kurang baik.
Semua Kabupaten di Madura bahkan sampai di kepulauan terdapat pengrajin gerabah seperti di Mandala Andulang, Duko Ru baru, Angkatan Kangean, Baragung, Pademawa Barat, Dalpenang Pakaporan, Blega dan lain-lain. Diantaranya yang sangat terkenal adalah Karangpenang Sampang dan Andulang Sumenep. Diantara daerah-daerah ini ada semacam perjanjian kerja untuk membuat barang-barang yang sudah ditentukan secara turun temurun atau spesialisasi. Dengan spesialisasi ini persaingan dapat dicegah. Gerabah Madura juga memaki kekhasan lokal yang disebabkan oleh keahlian/ketrampilan pengrajin, tersedianya bahan, teknik pembuatan dan teknik pembakaran. Dengan spesialisasi dan ciri khasnya itu, banyak kampung diberi nama sesuai dengan nama jenis tembikar tertentu.

Alat dan cara pembuatan gerabah
Peralatan pengrajin gerabah Madura adalah alat-alat tradisional yang tak jauh bedanya dengan yang sudah digunakan pada zaman Prasejarah. Alat-alat umum adalah cangkul, linggis, ember dan alat-alat khusus seperti:
  1. Panombuk atau penumbuk berupa bulatan bertangkai untuk alat pembentuk bagian dalam.
  2. Panempa atau penempa, untuk pembentuk dan penghalus bagian luar, berupa sekeping papan.
  3. Pangorek atau pengorek, sejenis sabit bermata miring bertangkai panjang untuk menghaluskan bagian dalam.
  4. Panyabugan, wadah air untuk menetesi gerabah dengan secarik kain agar mudah dihaluskan.
  5. Pangeled, secarik kain untuk membentuk bibir gerabah.
  6. Pangajakan, sejenis nyiru untuk ayakan pasir.
  7. Pangabuan, tempat abu.
  8. Panompal, alat menyisikan abu dari pembakaran.
  9. Wer-kower, galah berujung kawat lengkung.
  10. Pamatong, sejenis pisau atau kawat pemotong tanah liat.
  11. Tungku pembakaran gerabah.
  12. Dan lain-lain.

Proses pembuatannya secara umum adalah sebagai berikut.
  1. Pertama menyediakan bahan berupa tanah liat dan pasir yang terpilih dengan teliti.
  2. Tanah liat dan pasir dengan perbandingan tertentu diaduk dengan air merupakan adonan.
  3. Mengambil sebongkah tanah adonan atau kopo'an.
  4. Tanah kopo'an lalu dibentuk secara kasar atau hadangan.
  5. Dari badangan dibentuk baganan sehingga mulai tampak wujud benda yang diinginkan.
  6. Dengan kain pangeled pinggiran atau bibir dibentuk sehingga bulat melingkar.
  7. Bila yang dibuat sejenis belanga atau periuk mulut atau congaban sudah jadi lalu diangin-angin kemudian membuat perut dan bagian bawah yang terpisah dengan bagian mulut.
  8. Pembuatan perut setelah dibentuk secara Kasar diperhalus dengan alat penempa kemudian pengorek.
  9. Bagian perut dan bagian mulut disambung, kemudian diperhalus.
  10. Bila gerabah yang dibuat bertelinga, atau bertangkai, juga dipasang kemudian dengan disambung.
  11. Setelah halus dan diteliti kesempurnaannya, lalu dijemur hingga kering benar.
  12. Dibakar.
  13. Dibersihkan dengan air dan hasilnya sudah siap pakai atau dipasarkan. Namun untuk beberapa daerah ada yang masih menyempurnakan dengan semacam cat dari lumpur.
Fungsi dan Jenis.
Hasil kerajinan gerabah Madura sangat beraneka ragam dan bila ditinjau dari fungsinya dapatlah dikelompok-kelompokkan sebagai berikut:
  1. Alat atau tempat menanak nasi, contohnya: polo kontong, sobluk, pateppengan dan lain-lain.
  2. Alat atau tempat memasak lauk-pauk, seperti katta, kekenceng, dungdung, jadi, gulbung dan lain-lain.
  3. Tempat masak air: ceret, katta dan lain-lain.
  4. Untuk penyimpan atau pengambil air: gendi, pelteng, kelmo, tampal, gentong, penyambungan, panyamsaman dan lain-lain.
  5. Sebagai wadah hasil macam-macam produksi: pakes, kontong, tengtong, juleng, jadi, keppeng dan sebagainya.
  6. Tempat menabung: celengan.
  7. Alat tertentu: Pacapa'an, padupa'an, pateppengan dan lain-lain.
  8. Alat serbaguna: pennay, gulmong, kontong, cobik.
  9. Alat pembantu: sendi, pangobugan.
  10. Perhiasan, misalnya pot.
  11. Alat mainan, seperti gerabah mini, burung-burungan.
  12. Bahan bangunan: genting, bata, angin-angin, ubin.
Upaya pelestarian.
Pemakai gerabah Madura memperoleh banyak keuntungan seperti: harga murah, anti karat, mudah dibersihkan, mengurangi polusi dan lain-lain. Disamping itu juga dapat menyerap banyak tenaga kerja. Kemanfaatan umum dan jangka panjang adalah dapat melestarikan warisan budaya yang telah turun-temurun.
Mengingat keuntungan-keuntungan tersebut kiranya pelestariannya perlu mendapat perhatian kita semua dengan pengrajin dan peningkatan mutu hasilnya sehingga tetap relevan dengan keperluan masa kini.

Tari Pendet

Tari Pendet

Tari Pendet diciptakan oleh seorang maestro tari dari Bali yaitu I Wayan Rindi (1967)I Wayan Rindi menjadikan tari pendet sebagai penggubah tarian sakral yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Asal usul tari pendet diciptakan adalah untuk  tari pemujaan yang banyak dipentaskan di Pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Inti Gerakan Tari pendet adalah untuk  simbol penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa seniman di pulau Bali merubah Tari Pendet menjadi tarian ucapan selamat datang, tetapi Tari pendet tetap mengusung unsur sakral dan religius yang menjadi ciri  tari pendet.
Anda dapat melihat Tari Pendet ini pada https://www.youtube.com/watch?v=vQ1qdEoL4Kg

Sejarah Perkembangan. 
Sebelumnya Tari Pendet telah lahir sejak tahun 1950 sebelum pada 1961, I Wayan Beratha mengolah kembali tari pendet tersebut dengan pola seperti sekarang, termasuk menambahkan jumlah penarinya menjadi lima orang. Berselang setahun kemudian, I Wayan Beratha dan kawan-kawan menciptakan tari pendet massal dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan Asian Games di Jakarta. 1967 koreografer bentuk modern Tari Pendet. Pada tahun 1967 I Wayan Rindi seorang koreografer menciptkan bentuk modern tari Pendet ini adalah (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya. Disamping itu tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. 

Ciri-ciri Tari Pendet
1. Tata Busana Tari Pendet
Perkembangan busana memberikan ciri khas bahwa tari Pendet Balih-balihan merupakan tarian hiburan atau tarian “Ucapan Selamat Datang”. Busana di buat semenarik mungkin agar dapat memikat daya tarik penonton. Tata busana pada tari Pendet yang saya tonton adalah sebagai berikut:
•  Tapih berwarna hijau dengan motif crapcap
Cara penggunaan tapih sama halnya seperti memakai kain biasa, hanya saja ujung tapih ditaruh dibelakang dan harus menutupi mata kaki penari. 
•  Kamen berwarna merah dengan motif mas – masan dengan pemakaian kamen biasa.
Cara penggunaan kamen pada tarian ini sama dengan penggunaan kamen pada umumnya.
•  Angkin prada berwarna kuning dan memakai motif tumpeng
•  Selendang berwarna merah tanpa motif yang dililit di badan penari
2. Tata Rias Tari Pendet
Tata rias pada dasarnya diperlukan untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis-garis muka sesuai dengan karakter tarian. Pada Tari Pendet ini menggunakan rias putri halus.
•   Alat – alat tata rias yang dipakai dalam Tari Pendet adalah sebagai berikut:
•   Susu Pembersih (cleaning milk) sesuai dengan jenis kulit.
•   Penyegar (face tonic) fungsinya untuk menyegarkan kulit.
•   Alas bedak (Foundation) antara lain:  krayolan, ratu ayu, sari ayu, viva, ultima, latulip.
•   Bedak tabur dan bedak padat (apabila dibutuhkan).
•   Menggunakan eyeshadow warna kuning, merah dan biru berfungsi untuk mempertajam arsiran pada kelopak mata.
•   Pensil alis warna hitam.
•   Eyeliner sebagai penegas garis mata.
•   Maskara dan Bulu mata.
•   Blush on berwarna merah di pipi.
•   Lipstik merah.
Pada Tari Pendet yang saya tonton ini sudah menggunakan rias pentas atau panggung. Tarian ini dipentaskan pada siang hari namun penggunaan eyeshadow terlalu gelap (penggunaan warna biru yang lebih dominan)  sehingga bukan kesan indah yang di dapat melainkan kesan seram.
Hiasan kepala yang dipakai dalam Tari Pendet ini adalah :
•   Rambut disasak, menggunakan pusung gonjer
•   Menggunakan bunga kamboja ( jepun), bunga mawar merah dan bunga mas (bunga sandat dan semanggi. Masing – masing ditata dengan aturan yang berbeda yaitu:
•   Bunga mawar diletakkan di tengah – tengah diantara bunga kamboja dan semanggi.
•   Bunga kamboja (jepun) diletakkan melengkung dari atas telinga kanan sampai bersentuhan dengan bunga mawar merah.
•   Bunga Semanggi diletakkan disebelah kiri , melengkung kebawah dengan cara menyelipkan tangkainya pada batu pusungan.
•   Bunga Sandat disusun sepanjang susunan bunga jepun, tepatnya dibelakang bunga mawar merah dan bunga jepun.
•   Menggunakan subeng.
Riasan kepala pada Tari Pendet yang saya tonton sudah sama seperti riasan Tari Pendet pada umumnya.

Propeti pada Tari Pendet
Penggunaan properti pada tari pendet yang saya tonton adalah menggunakan bokor yang pada pinggiran bokor tersebut di hiasi dengan ornamen janur (daun kelapa yang masih muda dan berwarna kuning). Ornamen janur bisa dihias dengan motif potongan yang sesuai dengan selera penggunanya. Ada yang menghias bagian tengah janur dengan potongan bermotif kotak, adapula yang memilih motif irisan berbentuk belah ketupat atau gabungan dari kedua motif tersebut.